Tatyana Akman yang Bebas dan Bersemangat

Dia ditemukan ketika sedang menjadi model untuk temannya yang kuliah textile design, dan selebihnya adalah sejarah. Menjadi satu dari banyak wajah yang Anda kenali di halaman fesyen dengan sikap yang keren dan rambut keritingnya, Tatyana Akman langsung menarik perhatian para sutradara terkemuka di Indonesia. Itulah awal dari perannya di Ada Apa dengan Cinta? 2 dan Ini Kisah Tiga Dara.

 

Namun, menjadi tipe yang selalu menemukan kembali dirinya sendiri, Tat tentulah bukan seseorang yang menahan dirinya untuk sebuah bentuk tertentu dari ekspresi diri. Di samping menjadi model dan berakting, dia menggambar dan juga seniman tato handpoke di bawah nama Little Fortress. Dan sekarang, perempuan Pisces ini menambahkan gelar di sabuknya, seorang musisi. Singel debutnya, “Sad Today”, bisa didengarkan di berbagai platform digital. Kami duduk bersamanya untuk berbicara tentang usahanya di bidang seni, menjadi sedih, dan bagaimana berusaha menyenangkan semua orang sama sekali tak berarti.

 

Tatyana Akman, bagaimana mendeskripsikan diri Anda?

Saya segalanya dan bukan apa-apa di waktu bersamaan. Hahaha. Entah kalian mengetahui saya dari karya visual, akting, atau modelling, apapun itu selalu adalah saya. Tapi saya lebih sering direpresentasikan dari gambar, tato, dan musik yang saya buat.

 

Dengan semua hal yang dilakukan, apa yang membuat Anda ingin menyelami musik sekarang?

Ketika saya kasting untuk Ini Kisah Tiga Dara, itu adalah pertama kalinya saya bernyanyi di depan orang dan bisa dibilang saya menemukan bagian dari diri saya yang lain hari itu. Proyek tersebut menuntun saya untuk menjelajahi lebih dari itu. Selama periode promosi, saya bernyanyi untuk mengungkapkan karakter yang saya mainkan di dalam film. Kalau sekarang saya hanya ingin bernyanyi sebagai Tatyana seutuhnya.

 

Bagaimana Anda mendeskripsikan singel debut “Sad Today”?

Lagu ini tentang saya dan depresi, dan bagaimana saya menjalani kehidupan sehari-hari. Tapi saya mencoba untuk menampilkannya secara ringan dan sangat kasual, seperti sedih tapi dengan cara yang tidak membuat terpengaruh. Saya tidak ingin meromantisasinya, apa adanya saja.

 

Seperti apa Anda pikir akan berbeda mengungkapkan diri melalui musik?

Dalam musik, sepertinya saya bisa mengungkapkan lebih banyak hal secara menyeluruh. Ketika tampil, saya merasanya seperti sedang berakting. Tapi tidak hanya itu, saya bisa mengekspresikan diri melalui menulis dan mengembangkannya secara visual. Ini diri saya yang lebih komprehensif.

 

Kami tertarik dengan gig tato Anda, Little Fortress. Bagaimana itu bisa terjadi?

Ini sangat random sebenarnya. Saya selalu menjadi orang yang, “Oke, ayo kita coba ini dan ini”, dan ini adalah salah satu contohnnya. Saat itu saya sedang berada di Yogyakarta dan memutuskan kalau sebelum pulang, saya harus membuat tato. Saya mendatangi Petrichor Tattoo di sana dan bertemu Fuad yang kemudian menjadi guru saya. Semuanya lumayan spontan. Saya minta diajari menato dengan teknik handpoke padanya dan dia meminta saya untuk kembali keesokan harinya. Saya pun langsung menyelaminya dan menato pertama kali pada pacar saya dan langsung jatuh cinta dengan proses dan hasilnya. Jadi saya bawa ini ke Jakarta, belajar lebih banyak, berlatih dengan bantuan teman-teman, dan sekarang saya mempunyai klien dengan perjanjian.

 

Untuk seseorang yang berada di industri di mana sangat berfokus pada penampilan seseorang, pernahkan Anda merasa terbebani dengan standar kecantikan?

Saya memiliki kegelisahan akan rambut keriting saya. Hal sederhana seperti menggerai rambut untuk ke sekolah adalah sesuatu yang membuat saya tidak bisa tidur. Makanya, saya selalu mencatoknya. Ini membuat saya sangat stres dan muak dengan segala kekhawatiran ini, jadi saya biarkan saja. Lucunya, ketika saya menerimanya, orang-orang lain juga lama-lama menerimanya juga. Bahkan mereka yang tadinya mengolok rambut saya.

 

Bagaimana Tatyana mempraktikan self-love?

Saya lelah dengan kebencian akan diri sendiri. Saya selalu berjuang dengan citra tubuh dan standar kecantikan. Suatu hari, saya merasa cukup akan semuanya dan akhirnya menyadari kalau setelah menerima diri saya, tidak akan ada hal lain yang lebih berarti lagi. Jadi saya belajar untuk mencintai diri sendiri, dan itu adalah proses yang panjang. Sebelumnya, saya selalu mencari validasi dari orang lain. Sekarang ketika saya meninggalkan hal itu, saya merasa lebih bebas. Serius, jika kalian terus-terusan mencoba untuk menyenangkan orang lain, hal itu tidak akan ada habisnya.