Cinta yang Membuat Tergila-gila Bersama Kunto Aji dan Dewi Syariati

Untuk merayakan bulan kasih sayang, kami merayakan rasa cinta dengan menyoroti cerita salah satu internet couple yang sangat kami gilai, Kunto Aji dan Dewi Syariati, yang sudah bersama sejak 2005 dan membuat hubungan mereka berjalan selama 15 tahun terakhir. Tetap membaca untuk menggali apa yang membuat ikatan mereka sebagai partner hidup menjadi lebih kuat seiring berjalannya waktu. Cari tahu juga kunci mereka dalam mempertahankan hubungan yang awet dan bahagia.

 

Bagaimana kalian pertama bertemu?

Kunto Aji (KA): Kami bersekolah di SMA yang sama. Waktu itu Dewi murid pindahan. Ini mirip cerita sinetron sebenarnya. Hahaha. Karena Dewi anak baru, semua orang, termasuk saya, penasaran dia siapa. Singkat cerita, kami berkenalan, jadi teman, dan di sinilah kami sekarang. Benar-benar kisah yang panjang.

 

Dewi Syariati (DS): Sebenarnya kami baru mulai dekat di tahun terakhir SMA. Sebelumnya, kami tidak pernah mengobrol apalagi pacaran atau semacamnya. Singkat cerita, ada satu momen yang membawa kami bersama dan sejak saat itu kami berbicara tentang passion, mimpi, dan hal-hal yang bernilai dalam hidup kami. Dan kemudian sekarang kami berada di sini.

 

Kami dengar kalian berdua pernah melakukan hubungan jarak jauh juga.

DS: Ya! Hubungan kami sebelum menikah bisa dibilang termasuk jarak jauh. Setelah lulus SMA, saya sekolah di Surabaya dan dia di Yogyakarta. Lalu setelah sarjana, Aji ke Jakarta dan saya ke Belanda. Pada dasarnya, kami baru bersama sejak menikah dan tinggal di rumah yang sama. Hahaha.

 

Apa kesan pertama Anda untuk satu sama lain?

DS: Sejujurnya saya tidak pernah kepikiran akan bersama sejauh ini.

 

KA: Pertama saya lihat dia, saya pikir, “Cewek ini pendiam sekali.” Maksudnya, saya adalah tipe orang yang lebih tersambung dengan orang yang bisa diajak bicara dan bercanda.

 

DS: Kamu bisa kan begitu ke saya?

 

KA: Ternyata seperti itu. Tapi yang barusan kan kesan pertama saya untuk kamu.

 

DS: Saya murid baru dan masih menyesuaikan diri. Lalu tahu-tahu Aji bilang, “Kamu diam saja, tidak bisa bicara ya?” Karena itu saya tidak punya kesan pertama yang baik tentangnya. Bahkan dibilang romantis saja tidak.

 

Bagaimana Anda mendeskripsikan kata ‘cinta’ dulu dan sekarang setelah menikah dan memiliki Badha?

KA: Itu pertanyaan yang filosofis sekali! Hahaha. Bagaimana kami mendefinisikan cinta? Sepertinya sekarang jadi lebih universal. Maksudnya, sebagai partner kami perlu mengejar mimpi masing-masing dan hubungan tidak harus selalu terasa seperti memegangi satu sama lain terlalu erat. Kami perlu berjalan berdampingan dan mendukung satu sama lain.

 

DS: Jika kami melangkah maju, kami melangkah bersama. Intinya adalah mendukung mimpi masing-masing.

 

Bagaimana dengan kunci hubungan yang sehat dan awet?

KA: Saya pikir jawabannya akan sedikit klise. Karena kuncinya adalah mempercayai pasangan Anda, memiliki komunikasi yang baik, dan mendukung pasangan mencapai mimpi mereka. Karena sekarang kami sudah memiliki anak, kami juga harus coba menyeimbangkan waktu antara pekerjaan dengan anak.

 

Kita semua tahu kalau self-love memainkan peranan yang besar dalam hubungan dengan orang lain. Bagaimana caranya memastikan hal tersebut berkembang di pernikahan Anda?

DS: Kami selalu memprioritaskan waktu berkualitas. Jadi kapanpun ada waktu luang, kami habiskan bersama. Dan dengan bersama, bukan artinya pergi keluar. Seringnya kami diam di rumah saja, mengobrol tentang apapun. Karena pada akhirnya, yang paling penting adalah kami berfokus pada momen yang dihabiskan tanpa gangguan apapun.

 

KA: Semuanya ada di hal-hal sederhana seperti beberes rumah atau masak bersama. Bahkan jika masakannya tidak terasa enak, setidaknya Anda berusaha untuk melakukan kegiatan bersama.

 

Bisakah berikan kami nasihat dalam hubungan?

DS: Nasihat saya adalah santai dan nikmati prosesnya. Jika Anda lajang, nikmatilah menjadi lajang, fokus untuk menjadikan diri lebih baik dan bahagia dengan siapa diri Anda. Dengan begitu, kita akan menjadi pribadi yang menarik dan tidak mencari pasangan karena perlu untuk membuat diri kita bahagia. Jika Anda sudah berada dalam sebuah hubungan atau pernikahan, nikmatilah perjalanannya juga! Masalah akan muncul, tapi semua itu hanyalah bagian dari kehidupan. Tidak perlu dibesar-besarkan.

 

KA: Ketika kita bahagia dengan diri sendiri, memahami nilai diri, ke mana ingin membawa hidup, ketika suatu saat bertemu dengan orang yang tepat, kita tidak akan ketergantungan secara emosinal dalam hubungan tersebut.