Sebuah Terobosan dari Wafda Saifan

Saatnya mengenal lebih jauh aktor pendatang baru yang sedang naik daun, Wafda Saifan. Membintangi Eiffel… I’m in Love 2 dan Jelita Sejuba: Mencintai Kesatria Negara, peran yang dimainkan pria 28 tahun di sebuah serial HBO Asia, Grisse, ini benar-benar meninggalkan kesan di industri perfilman. Saat ini sedang mengerjakan proyek terbaru, pria Cancer ini meluangkan waktu duduk bersama kami untuk berbincang ringan tentang awal karirnya, perannya yang paling berkesan, dan karyanya di masa depan.

 

Apakah Anda selalu ingin menjadi aktor?

Lucunya, saya sebenarnya ingin menjadi pemain bola. Tapi ayah saya menyuruh saya fokus belajar di sekolah dan itu mempersulit saya untuk berlatih. Sehingga rasanya menjadi pemain bola bukanlah tujuan hidup saya.

 

Bagaimana akhirnya Anda berakhir menjadi aktor?

Setelah SMA, saya memulai sebuah band dan tawaran akting mulai berdatangan. Padahal saya tidak memiliki kemampuan itu sama sekali. Hahaha. Tapi kemudian saya pikir, “Mengapa tidak?” Saya ditawari peran sebagai penyanyi di sebuah drama TV [opera sabun musikal di 2011, Go Go Girls], jadi kelihatannya tidak terlalu jauh dari apa yang saya kerjakan saat itu. Mencoba berakting, ketagihan, lalu jatuh cinta. Saya jadi menyukainya.

 

Lebih suka berakting atau bernyanyi?

Keduanya sangat berbeda. Energi di antara keduanya berbeda. Satu-satunya yang mirip adalah sensasi bernyanyi langsung dan berakting di depan kamera. Di mana di kamera kita punya kesempatan untuk mengulang. Amannya, saya menikmati keduanya.

 

Proyek terbesar dan terbaru adalah serial HBO Asia, Grisse. Bagaimana Anda bisa terlibat?

Semuanya bermula dari DM. Saya menerima pesan dari HBO Asia, mereka pikir saya cocok untuk sebuah peran. Lalu saya bertemu sutradaranya, dan semua terjadi begitu saja.

 

Mengapa Anda mengatakan ya pada proyek tersebut?

Bagaimana bisa saya bilang tidak? Saya benar-benar tidak bisa menolaknya. Jika terdapat keraguan, datangnya dari bahasa, saya tidak pernah mendapatkan peran yang seluruhnya menggunakan bahasa Inggris. Sehingga keraguan datang pada apakah saya bisa melakukannya atau tidak. Jadi saya hanya berdoa lebih keras untuk ini.

 

Ceritakan tentang peran Anda di Grisse!

Saya memerankan Bakda, seorang pemberontak yang kerluarganya adalah korban dari kebrutalan penguasaan di era kolonial Hindia Belanda. Saudara kandung saya diperankan oleh Kelly Tandiono dan kami berusaha mengusir para kolonialis dari wilayah Gresik.

 

Bagaimana Anda mempersiapkan diri untuk peran ini?

Itu adalah tiga bulan terberat yang pernah saya jalani. Saya merasa seperti berada di planet yang sama sekali berbeda. Orang-orang berlalu-lalang berbicara dalam bahasa asing. Saya seperti, “Ini sedang berada di mana, sih?” Saya harus membaca naskah tebal dan memahami bahasa yang tertulis di sana serta berakting dengan meyakinkan. Pengalaman yang menarik.

 

Seperti apa Anda kalau sedang tidak berada di depan kamera?

Penasaran, apa pendapat Anda melihat saya di depan kamera? Hahaha. Tidak tahu, sebisa mungkin saya berusaha menjadi apa adanya saja. Saya tidak suka kepalsuan. Jadi saya mencoba tampil sederhana tapi tidak murahan, jika itu masuk akal.

 

Apa yang Anda harapkan dari masa depan?

Saya hanya ingin berkarya sampai mati, menulis lagu dan tetap berakting. Apa pun itu.