Iyas Lawrence: Serunya Menjadi Host Podcast Hingga Kisah Perjalanannya Ke Pulau Dewata

Iyas Lawrence, seorang podcaster untuk Makna Talks, duduk bersama kami untuk membicarakan tentang bagaimana dia memulai podcast dan hal terkeren tentang pekerjaannya, hingga perjalanan yang didedikasikan untuk mendiang ayahnya yang membuatnya memenangkan dua penghargaan. Baca sampai selesai untuk tahu kisah selengkapnya!

 

Kenalan dulu, yuk!

Hai, saya Iyas Lawrence, host dari podcast Makna Talks.

 

Sejak kapan mulai bekerja di dunia podcast?

Semuanya dimulai pada 2017, jadi podcast-nya sudah berjalan selama dua tahun.

 

Apa yang membuat Anda tertarik untuk menjadi host Makna Talks?

Pertama, podcast adalah tempat di mana saya bisa bertemua banyak orang baru. Setidaknya, itu menarik untuk saya. Kedua, platform ini membiarkan saya berbicara tentang topik apapun yang diinginkan dengan durasi lebih lama tanpa perlu khawatir dengan keberadaan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Podcast memberikan saya kebebasan berbicara dan mengekspresikan opini pribadi.

 

Sejauh ini apa hal terkeren yang pernah Anda alami selama menjadi host podcast?

Menjadi host memiliki keuntungan tersendiri. Contohnya, saya jadi bisa mengenal tamu secara personal, berteman dengan mereka, dan mungkin ke depannya jadi bisa melakukan kolaborasi setelah wawancara berlangsung. Untuk saya, pengaruhnya terasa seperti, “Gile, hanya dengan berbicara sejam, hubungan saya tidak lagi hanya sebatas pemandu acara dan bintang tamu lagi. Sekarang saya sudah jadi salah satu teman mereka!”

 

Apakah ada kriteria sebelum memutuskan siapa yang mau diundang untuk diwawancarai?

Sebenarnya tidak ada kriteria untuk siapa yang akan diundang di Makna Talks. Lebih tepatnya, saya tidak melihat Makna Talks sebagai platform yang memiliki segmentasi A, B, C. Jadi terbuka untuk siapapun dan kemungkinan, kalian selanjutnya.

 

Sejauh ini, siapa tamu yang paling menarik untuk Anda?

Ada banyak! Tapi yang paling menarik adalah Najwa Shihab. Lalu Ario Bayu, Danilla Riyadi, Gofar Hilman, dan banyak lagi. Sejujurnya, daftarnya masih terus berlanjut. Saya ingat pernah bilang kalau hidup akan lengkap kalau bisa mewawancarai dan diwawancarai Najwa Shihab. Kedua hal itu terjadi beberapa bulan yang lalu. Gak bisa bilang pencapaian sih, tapi ini Najwa Shihab!

 

Bagaimana feedback dari pendengar podcast Makna Talks?

Bisa dibilang feedback yang diterima menyenangkan. Mereka selalu positif tapi kadang terasa aneh juga karena kita tahu semua hal tidak selalu sempurna, kan? Ketika semua orang memberikan umpan balik yang positif, saya merasa perlu untuk mencoba sesuatu yang baru. Tapi terima kasih juga untuk komen positifnya.

Sejauh ini mungkin ada beberapa komentar negatif tentang podcast. Tapi kalaupun ada komentar yang membenci, itulah yang menyenangkan. Karena ketika tidak ada sama sekali sisi negatif, buat apa juga, kan?

 

Siapa selanjutnya yang akan diundang di podcast Anda, dan siapa tamu yang diimpikan?

Tamu yang saya idamkan selalu orang-orang yang bisa membuat perbedaan. Itulah mengapa saya sangat ingin mewawancarai Najwa Shihab. Karena saya tahu, dari semua orang di negara ini, dia adalah salah satu yang mampu membuat perbedaan. Dia adalah orang yang bisa membuat sebuah keputusan dan membuat orang-orang berpikir kalau keputusannya adalah sesuatu yang tepat. Orang-orang seperti dia adalah yang ingin saya undang. Selain Najwa Shihab, saya juga ingin mengundang Pak Jokowi (Joko Widodo), Komeng, dan orang-orang yang sudah membuat dampak pada negara ini. Itu mimpi saya.

 

Ceritakan tentang Cinemotor Awards yang baru saja Anda dapatkan!

Cinemotor Festival adalah festival motor yang diinisiasi oleh Sekepal Aspal. Saya tahu tentang ini sejak dua tahun yang lalu ketika mereka mengadakan festival film motor. Di waktu yang bersamaan, setelah ayah saya wafat, saya bertekad untuk melakukan road trip untuk beliau. Karena sebelum beliau meninggal, beliau ingin road trip dengan mobil. Beliau ingin mencoba jalan tol baru di Jawa dan ingin melihat keindahan pulau Jawa untuk terakhir kali. Sayangnya, itu tidak terjadi. Tapi saya tahu kalau beliau ingin saya melakukan hal yang sama. Jadi saya kendarai Mumun (Munarsih Muhajir), motor Honda C70 berusia 40 tahun , ke Bali.

 

Saat itu saya membuat video dua menit tentang perjalanan tersebut. Sammy dari Seringai mengompori supaya videonya didaftarkan ke kompetisi. Lalu semuanya berjalan lancar dan saya membawa pulang dua piala. Saya tidak menyangka karena saat itu lawannya adalah peserta dari Australia dan Perancis kalau tidak salah. Momen yang sangat tidak terduga.

 

Bagaimana proses selama membuat videonya?

Saya menggunakan tripod dan satu kamera dengan dua lensa. Awalnya, video tersebut hanya akan menjadi dokumentasi pribadi saja karena setiap tahun, saya biasanya membuatkan sebuah film untuk ulang tahun Ayah. Sekarang beliau sudah wafat, saya pikir ini akan menjadi film terakhir untuknya.

 

Ceritakan lebih jauh tentang perjalanan Anda! Adakah cerita di balik layar atau hal tertentu yang Anda alami ketika berada di jalan?

Ada suatu masa ketika Saya berada di Baluran. Baluran berlokasi sebelum Banyuwangi di mana terdapat hutan sepanjang 100 hingga 200 km di kedua sisi jalannya. Saat itu sore dan sudah mulai hujan. Pilihannya adalah menunggu hujannya reda tapi melewati Baluran di malam hari atau melanjutkan perjalanan sebelum matahari terbenam menembus hujan. Setelah sedikit pertimbangan, saya putuskan untuk memilih pilihan yang kedua.

Setelah 50 km berkendara di dalam hutan, rantai motor terus-terusan lepas sampai akhirnya saya lihat kalau gear-nya rusak. Saya menepi dan menunggu orang untuk melewati jalanan itu. Setelah 15 menit menunggu masih saja tidak ada orang yang lewat. Lalu ada konvoi pengendara N-Max yang datang setelah saya meneriakan kata-kata makian dan menemani saya ke pelabuhan Banyuwangi. Jadi kalau Anda tersesat dalam sebuah perjaanan, jangan hanya berdoa, Anda juga harus meneriakan kata-kata makian di jalanan. Hahaha.

 

Film dan perjalanan tadi didedikasikan untuk mendiang Ayah. Bisakan ceritakan tentang hubungan Anda dengan beliau?

Ayah saya adalah ensiklopedia berjalan dan ATM berjalan. Saya rasa ketika Anda memiliki hubungan seperti ini dengan Ayah dan beliau sudah tidak bersama kita lagi, ini akan membuat Anda berpikir tentang hal-hal yang seharusnya Anda lakukan atau katakan. Dan bersyukurnya, saya tidak mengalami hal-hal seperti itu.

 

Hubungan kami tidak hanya antara Ayah dan anak atau sahabat saja, kami juga sepasang kolega. Ketika bertemu untuk makan siang, kami membicarakan pekerjaan dan rasanya seperti berada di sebuah rapat. Itulah hubungan yang selalu saya inginkan dan beliau adalah orang yang paling spesial.

 

Ada satu nasihatnya yang tidak akan pernah saya lupakan. Beliau bilang, “Saya kasih kamu alat pancing, perahu, dan kapan kamu harus berlayar. Kamu hanya tinggal tangkap ikannya!” Dan saya sudah menangkap ikannya!

 

Selanjutnya apa yang akan datang dari seorang Iyas Lawrence?

Mungkin saya ingin menjadi astronot dari Indonesia? Hahaha. Saya ingin tetap melakukan apa yang saya kerjakan sekarang selama waktu mengizinkan. Tidak mau bilang sekarang ini sudah berada di posisi terbaik, tapi saya suka berada di sini. Ketika merasa nyaman pada posisi tertentu, kadang saya harap bisa berada di posisi ini untuk waktu yang lama.